Dinasti Joseon, bisa dianggap merupakan
dinasti konfusius tertua yang berhasil bertahan sampai saat ini. Pendiri
Dinasti Joseon adalah Yi Seong Gye yang diangkat dengan bergelar Raja
Taejo. Ia adalah seorang anggota klan Yi (Lee) dari Jeonju yang
melakukan kudeta terhadap Raja Woo dari Goryeo. Yi Seong Gye terkenal
sebagai ahli militer cerdik dalam memimpin perang terhadap bajak laut
Jepang yang mengganggu perairan Korea. Ia memindahkan ibukota dari
Gaegyeong (kini Gaeseong) ke Hanseong (kini Seoul) dan mendirikan Istana
Gyeongbok tahun 1394.
.
.
Suksesi secara patrilineal dari Raja Taejo tidak pernah terputus sampai zaman modern. Penguasa terakhir, Sunjong, atau Kaisar Yungheui yang diturunkan secara paksa oleh militer Jepang sebagai kepala negara pada tahun 1910. Sejak saat itu, para keluarga bangsawan Joseon tersebar ke beberapa negara, terutama Brazil dan Jepang. Keluarga Dinasti Joseon, memerintah dalam dua periode negara modern Korea, sejak didirikan sebagai Kerajaan Joseon sampai berubah nama menjadi Kekaisaran Han Raya (Kekaisaran Korea).
.
.
![]() |
| Istana Gyeongbok, istana utama Kerajaan Joseon. |
Suksesi secara patrilineal dari Raja Taejo tidak pernah terputus sampai zaman modern. Penguasa terakhir, Sunjong, atau Kaisar Yungheui yang diturunkan secara paksa oleh militer Jepang sebagai kepala negara pada tahun 1910. Sejak saat itu, para keluarga bangsawan Joseon tersebar ke beberapa negara, terutama Brazil dan Jepang. Keluarga Dinasti Joseon, memerintah dalam dua periode negara modern Korea, sejak didirikan sebagai Kerajaan Joseon sampai berubah nama menjadi Kekaisaran Han Raya (Kekaisaran Korea).
.
![]() |
| Foto masa-masa terakhir keluarga Dinasti Joseon. Saat foto tersebut diambil Kerajaan Joseon telah berganti nama menjadi Kekaisaran Han Raya (Kekaisaran Korea). |
.
Setelah diporakporandakan oleh penjajah
Jepang, dinasti ini memang dapat dikatakan hampir hancur. Kini, beberapa
anggota keluarga yang masih tersisa berusaha merekonstruksi kembali dan
menyambung tali sejarah keluarga Joseon agar tidak terputus seiring
berjalannya waktu. Walaupun, beberapa intrik perpecahan sempat muncul di
kalangan anggota keluarga.
..
- Sejarah
..
..
| Yi Seonggye, bergelar Raja Taejo, pendiri dan raja pertama Kerajaan Joseon. |
..
Selain Buddhisme, Konfusianisme muncul sebagai kekuatan politik dan sosial yang dominan. Hirarki sosial yang ketat dari Konfusianisme menempatkan raja dan keluarganya berada di puncak strata sosial, di bawah itu adalah kelas aristokrat (yangban) yang telah berkembang sejak Dinasti Goryeo. Di bawah lagi ada kelas rakyat biasa (sangmin) seperti petani, pedagang, pekerja, dan nelayan. Di bagian bawah lagi ada kasta orang buangan, termasuk budak yang dipekerjakan dalam pekerjaan yang tidak diinginkan. Kelas sosial menjadi turun-temurun karena pembauran dan pembebasan status hampir mustahil dilakukan.
.
.
.
![]() |
| Peta wilayah kekuasaan Dinasti Joseon (hingga tahun 1910) |
Untuk memastikan ruang yang cukup besar bagi orang-orang muda berpendidikan untuk menjadi pejabat pemerintahan, sekolah negeri dan swasta didirikan, dan layanan sipil, militer, dan ujian lainnya yang dilembagakan dibentuk. Dalam tradisi Konfusian, pendidikan merupakan faktor penting, karena melalui itu kita bisa mencapai posisi dan pangkat, lalu akhirnya pengaruh, kekuasaan, dan kekayaan. Sistem yang ketat tersebut tampaknya bekerja dengan baik dalam dua abad pertama dinasti, dan integritas pejabat publik tetap tinggi. Tergerak oleh idealisme, nasionalisme kuat, dan kesejahteraan negara semakin meningkat. Penekanan beasiswa dari negara ditempatkan pada bidang ilmu sosial-kebudayaan, seperti sejarah nasional, risalah ilmiah, teknologi, kedokteran, peningkatan penggunaan pencetakan untuk menyebarkan informasi, dan seni kaligrafi, lukisan, serta porselen. Salah satu prestasi yang paling membanggakan Korea, abjad hangul, diresmikan pada tahun 1446 oleh Raja Sejong.
![]() |
| Gambaran Gerobukseon, yang dipercaya sebagai kapal perang terkuat pertama di dunia. |
.
Dalam
masa Invasi Jepang ke Korea (1592-1598), penglima perang Jepang
Toyotomi Hideyoshi yang berambisi menguasai Cina, menginvasi Joseon dari
tahun 1592-1597. Dengan persenjataan modern dari Portugis, dalam
hitungan bulan mereka menduduki semenanjung, Hanseong dan Pyeongyang
pun berhasil diduduki. Akibat perpecahan dalam kabinet kerajaan,
kurangnya informasi mengenai kemampuan militer musuh dan gagalnya usaha
diplomasi menyebabkan buruknya persiapan Joseon. Berdasarkan Babad
Dinasti Joseon, serbuan tentara Jepang dibantu oleh budak-budak yang
berontak. Mereka membakar dan meruntuhkan Istana Gyeongbok dan
perpustakaan catatan budak.
.
.
![]() |
| Para aristokrat atau pejabat pemerintahan (yangban) pada era Joseon. |
.
Perlawanan sengit dari rakyat melemahkan kekuatan musuh dengan kemenangan-kemenangan besar perang naval dalam pimpinan Admiral Yi Sunshin. Admiral Yi mengambil alih kendali di perairan dengan menghabisi kapal-kapal suplai Jepang. Adanya bantuan Ming yang mengirimkan bantuan pasukan dalam jumlah besar tahun 1593 berhasil memukul mundur pasukan Hideyoshi. Joseon mengembangkan armada perang dengan perlengkapan canggih dan kemampuan tinggi seperti armada Geobukseon (Kapal Kura-kura) yang berlapis besi. Namun, kemenangan Joseon dibayar dengan harga yang sangat mahal. Lahan pertanian, saluran irigasi, fasilitas desa dan perkotaan rusak berat. Ratusan ribu penduduk tewas, jutaan lain menderita kerugian materi. Puluhan ribu seniman, pengrajin dan pekerja terbunuh dan diculik ke Jepang guna mengembangkan teknik kerajinan mereka. Para samurai itu juga merampok banyak harta sejarah bernilai Korea, banyak diantaranya disimpan di museum-museum.
Perlawanan sengit dari rakyat melemahkan kekuatan musuh dengan kemenangan-kemenangan besar perang naval dalam pimpinan Admiral Yi Sunshin. Admiral Yi mengambil alih kendali di perairan dengan menghabisi kapal-kapal suplai Jepang. Adanya bantuan Ming yang mengirimkan bantuan pasukan dalam jumlah besar tahun 1593 berhasil memukul mundur pasukan Hideyoshi. Joseon mengembangkan armada perang dengan perlengkapan canggih dan kemampuan tinggi seperti armada Geobukseon (Kapal Kura-kura) yang berlapis besi. Namun, kemenangan Joseon dibayar dengan harga yang sangat mahal. Lahan pertanian, saluran irigasi, fasilitas desa dan perkotaan rusak berat. Ratusan ribu penduduk tewas, jutaan lain menderita kerugian materi. Puluhan ribu seniman, pengrajin dan pekerja terbunuh dan diculik ke Jepang guna mengembangkan teknik kerajinan mereka. Para samurai itu juga merampok banyak harta sejarah bernilai Korea, banyak diantaranya disimpan di museum-museum.
.
![]() |
| Gisaeng, para wanita penghibur istana. |
.
Menyusul berakhirnya invasi Jepang,
Joseon mulai mengisolasi diri.
Penguasanya membatasi hubungan dengan negara lain. Sementara itu Dinasti
Ming mulai melemah, sebagian karena terkurasnya biaya akibat membantu
Joseon dalam invasi Jepang dan semakin menguatnya pengaruh Suku Manchu
atas Cina (Suku Manchu berhasil membangun Dinasti Qing). Joseon
memperketat penjagaan dan kontrol terhadap
lalu-lintas perbatasan, serta menunggu berita dari pergolakan di Cina.
Joseon menderita 2 kali invasi dari suku Manchu, tahun 1627 dan 1637.
Kerajaan
Joseon menyerah dan menjadi negeri protektorat Kekaisaran Qing yang
berkewajiban membayar upeti. Pada saat ini Joseon terlibat hubungan
dagang dua arah dengan Qing.
Adanya Perang Cina-Jepang telah berhasil
membuat Dinasti Joseon keluar dari campur tangan asing (Dinasti Qing).
Dengan melemahnya Dinasti Qing, Jepang
akhirnya menegosiasikan Perjanjian Shimonoseki dengan utusan dari
Kekaisaran Qing, dimana Jepang merebut kendali atas Semenanjung Liaodong
dari Qing (sebuah langkah yang dirancang untuk mencegah perluasan ke
selatan oleh saingan baru Jepang, Kekaisaran Rusia), dan, yang lebih
penting lagi yaitu ambisi Jepang menancapkan pengaruh atas Korea.
.
![]() |
| Prosesi iring-iringan pemakaman Ratu Min pada tahun 1895 di Seoul. |
.
Pada abad ke 19, setelah pembunuhan Ratu
Min oleh Jepang, Raja Gojong dan Putra Mahkota (kemudian menjadi Kaisar
Yunghui) mengungsi ke kedutaan besar Rusia pada tahun 1896.
.
Pada tahun 1897, Raja Gojong, akibat dari meningkatnya tekanan dari
dalam dan luar negeri mengenai tuntutan Kemerdekaan Korea yang dipimpin
opini publik, ia kembali ke Istana Gyeongun (sekarang Istana Deoksu). Di
sana, ia memproklamasikan berdirinya Kekaisaran Korea (Kekaisaran Han
Raya), dan menyatakan era baru dengan nama "Gwangmu".
.
![]() |
| Raja Gojong (Kaisar Gwangmu), raja terakhir Kerajaan Joseon sekaligus pendiri Kekaisaran Han Raya (Kekaisaran Korea). |
.
Raja Gojong merubah gelarnya menjadi Kaisar Gwangmu, kepala negara
Joseon pertama yang berdaulat penuh dan turun-temurun dari Kekaisaran
Korea. Ini menandai akhir lengkap tatanan dunia lama dan sistem
ketergantungan tradisional Joseon terhadap Qing. Bertahun-tahun
sebelumnya, Joseon selalu bergantung pada Qing dan dikenakan kewajiban
mengirim upeti kepada Kaisar Qing. Status baru Korea sebagai sebuah
kekaisaran berarti "benar-benar merdeka dan mandiri dari pengaruh Qing".
..
Nama "Kekaisaran Han Raya (Kekaisaran Daehan)" dipilih untuk menunjukkan kebangkitan
Konfederasi Samhan dari Proto-Tiga Kerajaan Korea. Arti penting dari
deklarasi kekaisaran yaitu untuk menyatakan kemerdekaan Korea dan
kesetaraan negara baru Korea dengan Cina dan Jepang.
.
.
.
![]() |
| Sebuah foto pernikahan Yi Woo, putra Kaisar Yunghui, kaisar terakhir dari Kekaisaran Han Raya, dengan istrinya Park Chanjoo, putri seorang politisi berpengaruh, Park Younghye. |
Dengan berakhirnya Perang Rusia-Jepang
1904-1905 dalam kesepakatan dalam Perjanjian Portsmouth, jalan Jepang
ke Korea semakin terbuka. Setelah menandatangani Perjanjian Portektorat
tahun 1905, Korea menjadi protektorat Jepang dengan gubernur jenderal
pertama adalah Ito Hirobumi. Hirobumi tewas tahun 1909 di Harbin setelah
dibunuh nasionalis Korea, Ahn Junggeun. Peristiwa ini menyebabkan
Jepang menjajah Korea tahun 1910.
.
![]() |
| Potret keluarga sastrawati Korea di era akhir masa pemerintahan Joseon. |
.
Setelah melakukan invasi dan aneksasi secara de facto tahun 1910,
para Pangeran dan Putri Kekaisaran Joseon dipaksa meninggalkan Korea ke
Jepang guna menikah atau belajar. Pewaris Tahta Kekaisaran, Putra Mahkota Uimin, menikah dengan Putri
Yi Bang-ja (d/h Nashimoto), dan memiliki 2 putra, Pangeran Yi Jin dan Yi
Gu. Kakak Uimin, Pangeran Ui memiliki 12 orang putra dan 9 putri dari
berbagai istri dan selir.
Putra Mahkota Uimin kehilangan statusnya di Jepang saat berakhirnya Perang Dunia II
dan kembali ke Korea tahun 1963 setelah diundang Pemerintah Korea
Selatan. Ia menderita struk saat pesawatnya mendarat di Seoul dan dibawa
ke rumah sakit. Ia tidak pernah sembuh dan meninggal tahun 1970.
Kakaknya, Pangeran Ui meninggal tahun 1955.
Memang tidak dapat dipungkiri, kehancuran dinasti ini benar-benar disebabkan oleh kebiadaban Jepang kala itu. Jepang tak hanya menjajah Korea secara politik, tetapi juga menginvasi Korea secara bahasa dan budaya. Rakyat dilarang menggunakan bahasa mereka sendiri, harus mengikuti kebiasaan orang-orang Jepang, bahkan memeluk shinto sekalipun. Para bangsawan diasingkan, dipecah-belah, menyebabkan diaspora besar-besaran para anggota keluarga Joseon ke luar negeri, terutama Jepang. Tak heran, jika sampai jaman moderen seperti ini, masih banyak rakyat Korea yang amat sangat membenci Jepang. Kini, Joseon sebagai peletak dasar-dasar kebudayaan Korea moderen, hanya terlihat begitu indah hidup dalam berbagai cerita drama kolosal dan berbagai peninggalan-peninggalan masa lalunya.
Memang tidak dapat dipungkiri, kehancuran dinasti ini benar-benar disebabkan oleh kebiadaban Jepang kala itu. Jepang tak hanya menjajah Korea secara politik, tetapi juga menginvasi Korea secara bahasa dan budaya. Rakyat dilarang menggunakan bahasa mereka sendiri, harus mengikuti kebiasaan orang-orang Jepang, bahkan memeluk shinto sekalipun. Para bangsawan diasingkan, dipecah-belah, menyebabkan diaspora besar-besaran para anggota keluarga Joseon ke luar negeri, terutama Jepang. Tak heran, jika sampai jaman moderen seperti ini, masih banyak rakyat Korea yang amat sangat membenci Jepang. Kini, Joseon sebagai peletak dasar-dasar kebudayaan Korea moderen, hanya terlihat begitu indah hidup dalam berbagai cerita drama kolosal dan berbagai peninggalan-peninggalan masa lalunya.
.
Saat ini (2013) ada tiga orang yang oleh
asosiasi keluarga kerajaan didaulat sebagai pewaris tertinggi tahta
mahkota Dinasti Joseon. Ketiga orang itu adalah :
1. Maharani Yi Haewon (이해원)
Putri Yi
Haewŏn dari Korea
(lahir 24 April, 1919), merupakan keturunan Wangsa Yi. Merupakan
satu dari dua pewaris tahta Korea.
Ia merupakan putri kedua Pangeran
Imperial Ui, Korea, putra kelima Kaisar Gojong dengan
selirnya, Nyonya Sudeokdang. Puteri Yi Haewŏn sekarang merupakan pewaris yang
diperdebatkan mendapatkan posisi kepala Istana Kerajaan
Korea dengan keponakannya Pangeran Pewaris
Imperial Won. Ia adalah putri tertua Pangeran Imperial Ui yang masih
hidup sampai sekarang.
Haewŏn dilahirkan di Istana Sadong yang
merupakan tempat tinggal resmi kemuarganya di Seoul dan dibesarkan di
Istana Unhyeon. Ia lulusan dari Sekolah Tinggi Kyunggi
di tahun 1936 dan kemudina menikah dengan Lee Seunggyu, yang diculik
secara wajib ke Korea Utara pada saat Perang Korea, memiliki keturunan,
tiga putra dan satu putri.
Hanya sebagai gelar memerintah sejak kematian pendahulunya Gu, Pangeran Kekaisaran Hoeun
pada tanggal 16 Juli 2005, Puteri Haewŏn dimahkotai sebagai suatu
simbolik monarki Korea pada tanggal 29 September 2006 oleh Asosiasi
Keluarga Imperial Korea, yang diorganisasi oleh sekitar selusin
keturunan dari Dinasti Joseon. Ia menuntut gelar Ratu (Maharani) Korea dan mengumumkan restorasi Istana Imperial pada saat upacara kenaikan
tahtanya sendiri.
2. Pangeran Imperial Yi Won (이원)
Won, Pangeran Pewaris Imperial Korea
(lahir tahun 1962), merupakan keturunan Dinasti Joseon (a.k.a. Wangsa
Yi) merupakan Kepala kontestan Keluarga Imperial Korea dan juga bekerja
sebagai seorang jenderal manajer Hyundai Home Shopping, sebuah kantor
cabang Hyundai chaebol. Ia dilahirkan sebagai putra tertua Pangeran Gap
dari Korea, putra ke-9 Pangeran Gang dengan istrinya Hyehwa-dong,
Jongno-gu, Seoul dan menjadi anak adopsi Pangeran Gu dari Korea, kepala
ke-29 istana Imperial, meskipun kesahan adopsi diperdebatkan.
Mereka yang menyangkal legitimasi adopsi mencatat bahwa persetujuan
untuk mengadopsi oleh Pangeran Won tidak diterima anggota lain dari
istana Imperial, termasuk Pangeran Seok,
adik tiri Pangeran Gap, dan Puteri Hae-won, anggota tertua yang masih
hidup di dalam istana. Juga, menurut hukum Korea yang sekarang, adopsi
tradisional setelah kematian dari orangtua angkat untuk meneruskan garis
keturunan tidak sah oleh legislasi pada tahun 2004.
Masalah
lain meningkat atas bila Pangeran Won atau ayahnya Pangeran Gap
merupakan anggota senior di dalam istana tersebut. Sewaktu garis
keturunan Pangeran Gang merupakan garis keturunan senior diikuti dengan
kematian Pangeran Gu, ada terdapat keturunan dari putra-putra Pangeran
Gang yang lebih tua. Kecuali keturunan Pangeran Geon, putra tertua yang
telah dinaturalisasi sebagai bangsa Jepang setelah Perang Dunia II,
beberapa anggota Istana mendesak bahwa Kepemimpinan Istana harus
diturunkan kepada keturunan Pangeran Wu, putra kedua Pangeran Gang.
Dalam hal ini, orang yang berhak sebagai Kepala wangsa tersebut adalah
Yi Chung, putra tertua Pangeran Wu.
Pada tanggal 16 Juli 2005, diikuti oleh kematian Pangeran Gu,
beberapa anggota Dewan Keluarga Yi (Lee) memilihnya sebagai Kepala Imperial
Istana Korea yang berikutnya dan mereka juga memberinya gelar Pangeran
Pewaris Imperial (Hwangsason) dengan arti mewarisi gelar Pangeran
Gu. Tuntutannya diperdebatkan oleh Yi Haewon
yang dimahkotai sebagai Ratu Korea Selatan oleh 12 keturunan yang
merasa bahwa ialah yang pantas menjadi Ratu, dan bukan Pangeran Won. Ia
sekarang tinggal di sebuah apartemen di Wondang, Goyang, Provinsi
Gyeonggi, Korea dengan keluarganya.
3. Pangeran Yi Seok (이석)
Yi Seok (lahir 1941) adalah seorang pangeran dari Keluarga Yi, keluarga kerajaan Korea. Dia digambarkan sebagai "kaisar boneka" tahta Korea oleh The New York Times, walaupun status ini tidak diakui oleh keluarga Asosiasi Yi. Yi Seok terkenal sebagai sebagai "pangeran bernyanyi". Sejak tahun 2004, ia telah didaulat oleh Pemerintah Kota Jeonju untuk mempromosikan pariwisata dan kebudayaan tradisional Korea. Ia juga seorang profesor sejarah di Universitas Jeonju. Dia adalah putra dari Pangeran Yi Kang, putra kelima dari Kaisar Gojong dari Korea.
Setelah
PD II berakhir dengan pendudukan dan partisi Korea oleh sekutu di
Selatan, dan Rusia dan Cina di utara, keluarga Kekaisaran Korea menjadi
tunawisma, apa aset yang tidak disita oleh Jepang kemudian disita oleh pemerintahan Presiden Syngman Rhee. Ketika Perang Korea meletus pada
musim panas tahun 1950 keluarga Kekaisaran melarikan diri dari kapal
pendarat Amerika dari Incheon, di sepanjang pantai ke Busan, ia
kemudian tinggal di sebuah biara di lereng bukit di Pulau Jeju sampai
perang berakhir pada musim gugur tahun 1953. Ketika
ia kembali ke Korea, Yi Seok sebagai seorang pemuda diminta untuk
merawat keluarganya. Ia sebisanya, bersama dengan saudara-saudaranya,
mengambil setiap pekerjaan yang ia bisa untuk membantu orangtua dan
saudaranya sambil belajar di universitas selama masa sulit Perang Korea.
..
Di Hankook University of Foreign Studies di Seoul, Yi Seok mempelajari bahasa asing, terutama Spanyol, serta hubungan luar negeri dan sejarah, ia menjadi fasih dalam beberapa bahasa, dan mempersiapkan diri untuk layanan diplomatik.
Di Hankook University of Foreign Studies di Seoul, Yi Seok mempelajari bahasa asing, terutama Spanyol, serta hubungan luar negeri dan sejarah, ia menjadi fasih dalam beberapa bahasa, dan mempersiapkan diri untuk layanan diplomatik.
Dan
tidak lama kemudian, Yi Seok bisa menghidupi diri, meniti karir
sukses sebagai penyanyi, termasuk penghibur pasukan Amerika di
pangkalan militer, dan karena itu mereka memanggilnya, “pangeran yang
suka bernyanyi”. Disini ia menjadi pasukan sukarela dan terdaftar dalam
divisi Tiger. Divisi Tiger adalah Divisi yang terdiri dri para
sukarelawan imana prajuritnya menyumbangkan 80% dari gaji mereka untuk
pemerintahan Korea Se;atan untuk mendukung ekonomi negara pasca perang. Ketika
ia bertugas di infanteri 1 Divisi tiger ia mengalami luka serius akibat
pecahan peluru. Ia juga berpartisipasi dalam operasi Tiger 1 dan Tiger
12.
.
.
Kembali ke Republik Korea, keluarga Kekaisaran kembali diberikan akomodasi di istana di Seoul, tetapi perlakuan istimewa ini berkahir, saat diktaktor militer berkuasa di Korea pada akhir 1970 yakni kudeta setelah pembunuhan Presiden Park Chung Hee pada tahun 1979, Mereka
mengusir keluarga kerajaan dari istana, mencabut status, harta dan
gelar mereka. Ibunya sampai membuat gerobak mie dan sebuah bar untuk
kehidupan sehari-hari. Sehingga pada tahun 1980, Ia kemudian mencoba keberuntungannya di Amerika Serikat.
.
.
Pengakuan Pangeran Yi Seok ...
.
.
(Sumber >> http://inisajamostory.blogspot.com/)
.
.
“Saat saya baru tiba, saya bekerja 16 jam
sehari sebagai pekerja kasar karena saya pendatang ilegal. Saya
bekerja dengan orang-orang Meksiko dan menerima uang tunai. Lalu pada
tahun 1986, saya dapat kewarganegaraan Amerika. Saya bayar 15 ribu
dolar ke seorang perempuan untuk kawin kontrak. Saya bekerja di toko
minuman keras miliknya di suatu lingkungan keras di Los Angeles dan
pernah dirampok 13 kali. Setiap pagi saya merasa gelisah, takut
dirampok lagi,”
.
.
Yi Seok
tinggal 10 tahun di Amerika dan bekerja di semua tempat termasuk
membersihkan kolam di kawasan elit Bevery Hills. Hidupnya jauh dari
istimewa dan kenyamanan yang pernah ia rasakan.
.
.
Pada
tahun 1989 Yi Seok kembali ke Korea Selatan, tapi tetap mengalami
kesulitan keuangan. Ia tinggal di biara beberapa tahun, berniat jadi
biksu. Tapi tidak cocok dengan hidupnya. Dia sering minum minuman keras
dan keluar sampai larut malam. Waktu ia pulang pintu biara sudah
tertutup. Dalam keputusasaan, ia sering memikirkan untuk bunuh diri.
.
“Saya mencoba bunuh diri delapan kali.
Yang terakhir 1999, saya menabrakkan mobil saya ke gerbang istana. Saya
menulis surat wasiat di WC umum. Seorang pemuda yang berada dekat
saya membukanya. Ia membacanya dan mengatakan, “Paduka Anda harus
beritahu orang mengenai hal ini!” Saya menjawab,”Ini memalukan, lebih
baik saya mati sendirian,”
.
.
Tapi
pertemuan dengan pemuda itu mejadi titik balik. Nasib Yi Seok berubah
setelah kisahnya dimuat dalam surat kabar nasional. Laporan tersebut
menceritakan seorang keturunan anggota kerajaan Dinasti Joseon
ditemukan menggelandang, tidur di WC umum.
.
.
Dengan
berubahnya iklim politik di awal 1990-an, Yi Seok bisa kembali ke
Republik Korea, dan sekali lagi berusaha untuk hidup dalam sifat
keluarga tua, dan berjuang untuk hak-hak hukum sebagai warga negara
pribadi. Setelah serangkaian masa sulit, ia
memiliki serangkaian perjalanan, pensiun ke biara, dan baru kembali
kehidupan publik pada awal abad ke-21, dengan serangkaian perjalanan
konstan melakukan pekerjaan pendidikan, mempromosikan baik wisata Korea
Imperial dan restorasi bangunan bersejarah, dan jadwal yang melibatkan lebih dari 100 ceramah atau penampilan publik setiap tahun. Saat ini ia tinggal di Jeonju, Korea Selatan. Kesulitan
dan ketahanan yang khas kehidupan Korea Yi Seok selama PD II dibuat
menjadi program semi-fiksi TV dramatis pada Korea Broadcasting System
(KBS).
.
Pada bulan Oktober 2004, Yi Seok kembali ke kota kerajaan Jeonju atas undangan walikota, untuk membawa mengembalikan keunggulan budaya di Korea. Pada bulan Februari 2005, Yi Seok mulai mengajar dua kali kelas mingguan tentang sejarah Korea di Jeonju University dengan gelar profesor. Kelasnya berpusat pada tokoh-tokoh zaman Dinasti Joseon serta memperkenalkan sejarah Korea pra-1900 untuk siswa tahun kedua.
.
Sepanjang 2006, Yi Seok telah melakukan kunjungan resmi ke luar negeri untuk memberikan beberapa ceramah tentang budaya tradisional Korea antara lain kunjungan ke Amerika Serikat (Los Angeles, dan Washington), Mexico City, Meksiko, dan ke Frankfurt, Jerman untuk sebuah pameran perdagangan Korea. Pada bulan September 2006, Yi Seok bepergian sebagai seorang profesor dengan sesama akademisi dan mahasiswa ke Jepang. Yi Seok juga baru-baru ini menerbitkan sebuah buku tentang ritus seremonial keluarganya. Dia telah setuju untuk menjadi tuan rumah sebuah serial TV, yang saat ini dalam pra-produksi, pada sejarah kerajaan Korea. Berjudul "A Personal View of Korea", seri dokumenter ini akan menampilkan tiga episode di sejarah Korea, istana dan kuil-kuil, serta 20 arsitektur benteng istana Dinasti Joseon.
.
.
Pada bulan Oktober 2004, Yi Seok kembali ke kota kerajaan Jeonju atas undangan walikota, untuk membawa mengembalikan keunggulan budaya di Korea. Pada bulan Februari 2005, Yi Seok mulai mengajar dua kali kelas mingguan tentang sejarah Korea di Jeonju University dengan gelar profesor. Kelasnya berpusat pada tokoh-tokoh zaman Dinasti Joseon serta memperkenalkan sejarah Korea pra-1900 untuk siswa tahun kedua.
.
Sepanjang 2006, Yi Seok telah melakukan kunjungan resmi ke luar negeri untuk memberikan beberapa ceramah tentang budaya tradisional Korea antara lain kunjungan ke Amerika Serikat (Los Angeles, dan Washington), Mexico City, Meksiko, dan ke Frankfurt, Jerman untuk sebuah pameran perdagangan Korea. Pada bulan September 2006, Yi Seok bepergian sebagai seorang profesor dengan sesama akademisi dan mahasiswa ke Jepang. Yi Seok juga baru-baru ini menerbitkan sebuah buku tentang ritus seremonial keluarganya. Dia telah setuju untuk menjadi tuan rumah sebuah serial TV, yang saat ini dalam pra-produksi, pada sejarah kerajaan Korea. Berjudul "A Personal View of Korea", seri dokumenter ini akan menampilkan tiga episode di sejarah Korea, istana dan kuil-kuil, serta 20 arsitektur benteng istana Dinasti Joseon.
.
.
Baru-baru ini kota Jeonju, tempat kelahiran para anggota keluarga kerajaan, membangun rumah untuknya dan menjadikannya sebagai identitas dan maskot kota Jeonju, selain sebagai daya tarik pariwisata. Pemerintah kota berharap mendapat keuntungan dari deaskan publik yang tertarik dengan sejarah keluarga kerajaan. Walaupun sebelumnya beberapa warga sempat tidak mempedulikan hal ini.
Baru-baru ini kota Jeonju, tempat kelahiran para anggota keluarga kerajaan, membangun rumah untuknya dan menjadikannya sebagai identitas dan maskot kota Jeonju, selain sebagai daya tarik pariwisata. Pemerintah kota berharap mendapat keuntungan dari deaskan publik yang tertarik dengan sejarah keluarga kerajaan. Walaupun sebelumnya beberapa warga sempat tidak mempedulikan hal ini.
.
Ketertarikan
masyarakat dengan Kerajaan Korea mungkin sebuah tanda, negara ini
siap memaafkan dan melupakan kekurangan beberapa bangsawan kerajaan terdahulu. Tapi
Yi Seok ingin dapat lebih dari sekedar permintaan maaf. Ambisinya
besar untuk melihat kembalinya monarki, paling tidak kebiasaan upacara keluarga
kerajaan. Tapi apa masyarakat siap untuk menerima kembalinya sistem
monarki ?
.
.
"Saya berada di
upacara penghargaan dan Yi Seok diundang sebagai tamu terhormat. Dan
saya akan berbicara kepada beberapa orang, untuk mencari tahu pendapat
mereka tentang anggota keluarga kerajaan. Saya
mencoba dekati beberapa tamu dengan foto Yi Seok di tangan saya dan
menanyakan pertanyaan yang sama kepada setiap orang. 'Anda kenal dengan
orang ini ?' Ujarnya,"
.
Orang ini tidak
tahu identitas laki-laki yang ada di foto. Tapi akhirnya ia mengatakan
itu orang yang pernah menyanyikan “Nest of Doves”. Perempuan
lainnya juga kesulita mengenali Yi Seok. Tapi saat saya menjelaskan
ia adalah keturunan kerajaan, perempuan itu mengaku mengenalinya.
Namun merasa enggan untuk kembali kepada sistem kerajaan. Bukan hal
yang gampang untuk dikembalikan katanya. Laki-laki
berikutnya berhasil mengenali Yi Seok. Saat oa menanyakan pendapatnya
tentang kerajaan Korea, ia mengakui menyesali datangnya pengaruh
Konfusianisme yang dianut anggota kerajaan Korea. Tapi tetap ia tidak
mau kembali pada sistem monarki. “Oh tidak,” Ia mengatakan, "Negara ini
sudah cukup demokratis. Itu ide yang menggelikan."
.
.
Tampaknya,
jalan masih panjang untuk Yi Seok sebelum ia meraih ambisinya melihat
kembalinya monarki Joseon di Korea. Tetapi ia tetap bertekad.
.
.
.
.
.
* * *
..
![]() |
| Potret keluarga Dinasti Joseon semasa Kekaisaran Han Raya (Dari kiri : Putra Mahkota Yeongchin, Kaisar Yunghui [Sunjong], Raja Gojong, Maharani Sunjeong, dan Putri Deokhye). |
Seperti yang diketahui, pada abad ke-19, Korea tetap menjadi "Kerajaan Pertapa", gigih menentang tuntutan Barat untuk membuka hubungan diplomatik dan perdagangan. Seiring waktu, beberapa negara Asia dan Eropa dengan ambisi imperialistiknya bersaing satu sama lain untuk berebut pengaruh atas Semenanjung Korea. Jepang, setelah memenangkan perang melawan Qing (Cina) dan Rusia, secara paksa menganeksasi Kekaisaran Korea dan melembagakan pemerintahan kolonial secara permanen pada tahun 1910, yang secara praktis mengakhiri kekuasaan Dinasti Joseon atas Semenanjung Korea.
.
![]() |
| Suasana Namdaemun di awal abad ke 20. |
.
Proses kolonisasi Jepang membangkitkan rasa patriotisme orang Korea. Kaum cendekiawan dan intelektual Korea merasa marah dengan kebijakan asimilasi budaya Jepang, yang bahkan melarang pendidikan Bahasa Korea di sekolah-sekolah - menggantinya dengan pelarajan Bahasa Jepang. Pada tanggal 1 Maret 1919, demonstrasi damai menuntut kemerdekaan menyebar secara nasional. Pihak berwenang Jepang dengan kejam menekan para demonstran dan pendukung mereka, mereka membantai ribuan orang yang terlibat dalam aksi-aksi tersebut.
.
.
Meskipun gagal, Gerakan Kemerdekaan 1 Maret menciptakan ikatan yang kuat sebagai identitas nasional dan patriotisme di kalangan warga Korea. Gerakan ini menyebabkan pembentukan Pemerintahan Sementara Korea di Shanghai, Cina, serta perjuangan bersenjata terorganisir melawan penjajah Jepang di Manchuria. Gerakan Kemerdekaan diperingati di Korea setiap 1 Maret.
.![]() |
| Seolleung, makam Raja Seongjong di Seoul. |




















